Tanda-tanda Akan Terjadinya Bank Gagal

Diposting pada 29 Oktober 2017 10:48

Andrew Fight dalam bukunya berjudul Understanding International Banking memberikan informasi mengenai beberapa tanda-tanda bahaya yang dapat membantu dalam mengidentifikasi permasalahan dan kemungkinan terjadinya kegagalan bank. Tanda-tanda bahaya dari kegagalan bank ini difokuskan pada aspek mikro, tidak pada aspek makro.

  • Pertumbuhan Kredit atau Assets yang Terlalu Cepat

    Pertumbuhan kredit atau assets yang terlalu cepat adalah suatu indikator bank yang akan mengalami permasalahan. Bank yang secara agresif meningkat pesat pertumbuhan portfolio kreditnya, mempunyai resiko kredit yang besar. Sebagai contoh di awal tahun 1980-an, Continental Illinois berusaha menjadi salah satu dari 10 bank terbesar di Amerika Serikat dengan cara melakukan program yang secara agresif untuk meningkatkan pertumbuhan kredit di segmen korporasi. Pertumbuhan kredit yang dibiayai adalah pada industri minyak dan gas di Oklahoma. Ketika harga minyak dan gas turun, bank mengalami krisis likuiditas yang mengakibatkan kerugian besar. Pertumbuhan kredit sebaiknya tidak dilihat dari historikal data bank saja tetapi juga dibandingkan dengan kompetitor atau pesaingnya. Apakah pertumbuhan bank tersebut diatas atau dibawah rata-rata. Dan apakah pertumbuhannya terlalu cepat jika dibandingkan dengan pesaing, kita harus mencoba menemukan alasannya. Pertumbuhan kredit yang dua kali lebih besar dari rata-rata pesaing dapat mengindikasikan kemungkinan melemahnya kualitas assets.

  • Konsentrasi Kredit yang Terlalu Besar

    Konsentrasi kredit yang terlalu besar pada satu sektor ekonomi adalah salah satu faktor yang melatarbelakangi terjadinya permasalahan bank. Bank yang prudent mestinya mempunyai batasan pemberian kredit pada sektor industri tertentu atau daerah tertentu. Pelampauan limit pada sektor industri atau daerah tertentu dapat melemahkan bank. Jika pemberian kredit pada sektor properti, perkapalan, minyak/gas dan pertanian mendominasi portfolio kredit suatu bank, maka bank tersebut menjadi sangat lemah dan potensial membahayakan kelangsungan usaha. Ciri–ciri terjadinya konsentrasi kredit yang terlalu besar pada sektor industri tertentu biasanya karena bank mempunyai ambisi untuk tujuan menjadi bank terbesar, dan oleh karenanya mengabaikan ketentuan-ketentuan kebijakan pemberian kredit. Pada awal ekspansi memang terlihat adanya pertumbuhan kredit yang meningkat namun setelah masuk pada tahapan pembayaran angsuran maka akan terjadi kemacetan pembayaran. Bank akan mengalami kerugian dan akhirnya bangkrut seperti Continental Illinois dan Credit Lyonnais serta Bank Pacific (baca Bab 2.4.5. Beberapa Kasus Bank Gagal di Indonesia tahun 1992–2004).

  • Lemahnya Rasio-rasio Keuangan

    Dari tahun ke tahun ratio-ratio keuangan bisa berfluktuasi tetapi kelemahan ratio-ratio keuangan dalam waktu yang cukup lama seperti ratio profitabilitas, likuiditas dan permodalan merupakan suatu tanda-tanda bahaya. Salah satu dari indikator yang dapat menjadi persoalan adalah adanya peningkatan assets bermasalah (non performing assets) dan penyisihan penghapusan aktiva (provisions). Baca Bab 3 Mengenal Bank dari Laporan Keuangan.

  • Penyelamatan Kredit dan Penghapusan Kredit

    Kebijakan penyelamatan dan penghapusbukuan kredit macet merupakan salah satu indikator dari kualitas kredit suatu bank. Pencatatan (history) atas kredit macet adalah suatu hal yang sangat penting. Kecilnya tingkat pengembalian (recovery rate) dari kredit macet dalam suatu kurun waktu tertentu mengindikasikan bahwa penyelesaian kredit bermasalah di bank tersebut tidak efektif.

  • Suku Bunga Dana Lebih Tinggi Dari Pada Suku Bunga Pasar

    Banyak bank berusaha untuk menarik dana dari nasabah retail dengan cara menawarkan suku bunga yang lebih tinggi dari pada bank pesaing. Sebagai contoh, Khalifa Bank sebagai bank swasta yang baru berdiri di Algeria pada tahun 2002 menawarkan kepada retail deposan suku bunga yang lebih tinggi daripada bank-bank milik pemerintah (lebih dari 17% pa). Disamping itu sebagai bank baru yang diharapkan dapat bertumbuh menjadi bank yang berhasil menyerap dana retail, pemerintah memberikan fasilitas bebas pajak selama 5 tahun. Tidak akan mengagetkan kita bahwa setelah selesainya tenggang waktu bebas pajak dan Khalifa harus bersaing dengan bank lain yang sudah lebih dulu ada dan mapan, termasuk dengan bank–bank pemerintah, Khalifa tidak dapat mempertahankan kegiatan operasionalnya dan akhirnya pada tahun 2003 ditutup oleh otoritas moneter Algeria. Diketahui kemudian bahwa keistimewaan yang diberikan kepada Khalifa rupanya terkait dengan adanya kepentingan politik dari keluarga tertentu (clan) dan kejahatan pencucian uang (money laundering) dari korupsi yang dilakukan oleh pejabat-pejabat militer yang medukung pemerintah. Tentunya akibat ditutupnya Khalifa maka deposan tidak dapat menerima kembali dananya.

  • Kewajiban-kewajiban dari transaksi admnistratif (Off Balance Sheet Liabilities)

    Analisa terhadap liabilitas kontinjen juga seharusnya diteliti. Perlu hati-hati apabila terdapat liabilitas kontinjen yang menampilkan pendapatan fee yang atraktif dan tidak tercermin dalam neraca maupun skhedule amortisasi, karena akan mempengaruhi menurunnya kemampuan solvency ratio atau kewajiban pembayaran kepada pihak ketiga (contoh transaksi antara lain bank garansi yang diterbitkan). Oleh karena itu pencermatan atas setiap rincian dari kontinjen liability adalah menjadi hal yang penting untuk dapat menilai kualitas aktiva / asset secara keseluruhan.

  • Rekayasa akuntansi (creative accounting)

    Jika suatu bank memilih untuk tidak memberikan informasi yang layak dalam setiap pos rekeningnya, bank akan merubah kebijakan akunting atau melakukan window dressing neraca (misal pinjam dana dari interbank market dan membukunya pada aset pos penempatan pada bank atau Short Term assets) sebagai suatu cara untuk memperbaiki posisi likuiditas pada neraca. Trik seperti ini sangat sering dilakukan untuk menyembunyikan permasalahan yang ada pada bank tersebut.

  • Terlambat menerbitkan laporan keuangan (delayed financials)

    Bank wajib mempubilkasikan laporan keuangan tahunan maupun laporan auditor setelah akhir tahun. Oleh karena itu apabila ada laporan keuangan yang terlambat dipublikasikan maka keterlabatan tersebut merupakan pertanda adanya permasalahan di bank tersebut. Deposan harus waspada dan bertanya-tanya apabila bank-bank lain sudah jauh lebih dulu menerbitkan laporan keuangan sementara banknya belum. Tetapi umumnya permasalahan ini bukan dari banknya tetapi dari auditornya, karena auditor membutuhkan waktu tambahan untuk melakukan pemeriksaan. Contoh, Johson Matthey mengeluarkan laporan keuangan 5 bulan lebih lambat dari yang seharusnya dengan pendapat unqualified (wajar tanpa pengecualian), tetapi bank tersebut ditutup 3 minggu setelah terbitnya laporan keuangan itu. Auditor tersebut diajukan kepengadilan karena dianggap tidak kompeten dalam menjalankan profesinya.

  • Penggantian Auditor (change in auditor)

    Untuk melihat adanya permasalahan dalam penggantian auditor adalah dengan menanyakan latar belakang kenapa bank mengganti auditornya. Dan suatu hal yang wajar jika penggantian auditor disebabkab oleh karena “harga”. Oleh karena itu menjadi sangat penting untuk mengetahui alasan yang paling mendasar dari pergantian auditor. Ciri khasnya adalah karena adanya perbedaan penafsiran (interpretation) antara bank dan auditornya atas pos-pos rekening (accounts), sementara auditor pengganti bersedia untuk menerima penafsiran tersebut hanya karena alasan bisnis.

  • Penggantian Manajemen (change in management)

    Pengunduran diri secara tiba-tiba mungkin mengindikasikan pergantian ini adalah karena tidak mampu (incompetent) atau adanya tindak pidana yang dilakukan oleh para komisaris atau direksi. Dalam hal terjadi pergantian pimpinan, bisa timbul kekhawatiran apabila kepergian dari CEO yang “one man show”, bisa mengakibatkan kehancuran (collapse) dari bank yang ditinggalkan karena tidak dipersiapkannya untuk adanya suksesi. Juga, pergantian staff yang sering dan cepat dapat mencerminkan adanya permasalahan pada bank. Pergantian dan perpindahan staff di level pimpinan tingkat menengah seperti ini bisa mengakibatkan kegagalan bank.

  • Penggunaan Pengaruh Politisi (Use of Political influence)

    Dari kasus-kasus bank yang mempunyai keterikatan erat dengan regim pemerintahan, umumnya bank–bank itu akan berusaha untuk mendapatkan perlakuan istimewa dari pembuat kebijakan (regulator) maupun melalui jalur-jalur politik. Kasus–kasus ini dikenal di negara-negara yang menganut sistem “crony capitalism” dimana pemerintah menempatkan orang-orangnya pada posisi kunci di bank yang menjadi group mereka. Negara-negara Philipines, Indonesia, Algeria dll, adalah tempat–tempat dimana pemerintahannya memberikan dukungan dan kemudahan yang berlebih kepada bank–bank yang dekat dengan kekuasaan. Suatu hal yang tidak mungkin terjadi apabila perlakuan tersebut diberikan atas dasar prinsip-prinsip bisnis yang sehat. Transaksi–transaksi yang bermotifkan politik umumnya adalah karena adanya ketidakmampuan dalam memenuhi syarat-syarat bisnis maupun menutup-nutupi pelanggaran atas suatu ketentuan. Tidak sulit untuk mengetahui adanya penggunaan hubungan politik dalam kegiatan bisnis mereka, karena para bankir akan dengan bangga menceritakan mengenai bagaimana baiknya hubungan mereka, namun tidak menyadari bahwa nyatanya mereka adalah manager yang tidak berarti dan tidak mempunyai kemampuan untuk menjalankan kegiatan bisnis yang sehat.

  • Kabar Angin di Pasar Uang (rumours in the money market)

    “kami rasa bank tersebut ada masalah”. Informasi dikalangan dealer dapat menjadi sumber informasi dari adanya permasalahan pada suatu bank. Karena bank yang mengalami penurunan kinerja keuangan akan mengalami kesulitan likuiditas. Dan usaha yang paling cepat untuk memenuhi likuiditas jangka pendek adalah melalui transaksi money market. Dealer–dealer inilah yang melakukan transaksi dan tentunya akan langsung bisa merasakan bank mana yang mengalami permasalahan.

  • Harga Saham yang Cepat Berubah (share price volatility)

    Biasanya analis-analis pasar modal mempunyai perkiraan yang lebih mendekati kenyataan atas penilaiannya kepada suatu bank daripada perkiraan yang terdapat pada laporan keuangan tahunan. Hati-hati terhadap bank–bank yang mempunyai market kapitalisasi lebih rendah dari pada nilai bukunya atau harga sahamnya secara tiba-tiba jatuh.

  • Memburuknya Ekonomi

    jika ekonomi memburuk atau adanya resesi umumnya kondisi itu merupakan pertanda akan ada perusahaan yang merugi dan bertambahnya kredit macet di perbankan. Tanda-tanda ini bisa menjadi petunjuk dari adanya kesulitan yang dialami oleh suatu bank. Dan sebenarnya tanda-tanda ini bukan hanya sebuah glimpse yang hanya tampak dipermukaan saja, tetapi merupakan percerminan dari adanya kesulitan yang diderita oleh suatu bank. Dalam kasus-kasus tertentu, sebaiknya perlu juga mempertimbangkan informasi-informasi gosip (rumors) yang diceritakan dari mulut ke mulut.


Ditulis oleh:
Desman Siahaan
Bagikan
Pencarian
Arsip